Motivasi Menulis

Sujud tilawah adalah

Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan orang muslim ketika mendengar atau membaca ayat-ayat sajadah baik dalam shalat maupun diluar shalat. Di dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat sajadah, pada saat membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah tersebut seorang muslim disunahkan untuk melakukan sujud tilawah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ أَنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ اِعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي يَقُوْلُ يَا وَيْلَهُ أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُوْدِ فَسَجَدَ فَلَهُ اْلجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُوْدِ فَعَصَيْتُ فَلِي النَّارُ. [رواه أحمد ومسلم وابن ماجه].

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Apabila seseorang membaca ayat sajdah lalu ia sujud, maka menyingkirlah syaithan dengan menangis berkata: Sungguh celaka, manusia diperintah sujud lalu ia sujud, maka baginya surga. Sedangkan aku diperintah sujud tetapi aku membangkang, maka bagiku neraka.” [HR. Ahmad, Muslim, dan Ibnu Majah].


عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا لَمْ نُؤْمَرْ بِالسُّجُوْدِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ. [رواه البخاري].

Artinya: “Diriwayatkan dari Umar ra., ia berkata: Hai sekalian manusia, kita tidak diperintah untuk bersujud, barangsiapa yang bersujud ia mendapat pahala, dan barangsiapa yang tidak bersujud ia tidak berdosa.” [HR. al-Bukhari].
Maka jika dalam shalat sang imam membaca ayat sajadah, seorang makmum harus tetap mengikuti imam, jika sang imam melakukan sujud tilawah makmumpun mengikuti dan jika tidak maka makmumpun tidak. Tata caranya adalah yang pertama melakukan takbir kemudian bersujud dan membaca : “Sajada wajhii lil-ladzii khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam‘ahu wa basharahu wa bi haulihi wa quwwatihi”, berdasarkan hadits:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ فِي سُجُوْدِ الْقُرْآنِ بِاللَّيْلِ سَجَدَ وَجْهِيْ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَبِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ. [رواه أبو داود].

Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah ra., ia berkata: Adalah Nabi saw membaca pada sujud tilawah di malam hari (yang artinya): Wajahku sujud kepada Dzat yang menjadikan dan membentuknya, dan yang memberi pendengaran dan penglihatan dengan kekuatan dan kekuasaannya.” [HR. Abu Dawud].
Sujud tilawah ini cukup dilakukan satu kali saja dan jika sujud tilawah dilakukan di luar shalat maka tidak diwajibkan untuk berwudhu terlebih dahulu. Ada lima belas ayat-ayat sajdah yang terdapat dalam al-Qur’an, sebagaimana diterangkan oleh hadits:

عَنْ عَمْرَو بْنِ اْلعَاصِ قَالَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي خَمْسَ عَشْرَةَ سَجَدَةً فِي الْقُرْآنِ فِيْهَا ثَلاَثٌ فِي اْلمُفَصَّلِ وَفِي اْلحَجِّ سَجَدَتَانِ. [رواه أبو داود وابن ماجه].

Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Amr bin ‘Ash ra., ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw mengajarkan lima belas ayat sajdah dalam al-Qur’an, tiga di antaranya terdapat dalam surat mufashshal (pendek-pendek) dan dua dalam surat al-Hajj.” [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah].
Ayat-ayat sajdah yang lima belas itu ialah sebagai berikut:

1. QS. al-A‘raf (7): 206
2. QS. ar-Ra‘d (13): 15
3. QS. an-Nahl (16): 49
4. QS. al-Israa’ (17): 107
5. QS. Maryam (19): 58
6. QS. al-Hajj (22): 18
7. QS. al-Hajj (22): 77
8. QS. al-Furqan (25): 60
9. QS. an-Naml (27): 25
10. QS. as-Sajdah (32): 15
11. QS. Shaad (38): 24
12. QS. Fushshilat (41): 37
13. QS. an-Najm (53): 62
14. QS. al-Insyiqaq (84): 21
15. QS. al-‘Alaq (96): 19

Itu tadi Artikel tentang Dalil, Bacaan, Doa Sujud Tilawah. Semoga bermanfaat. dan tolong komentar jika berkenan.

Oleh: Dzakia Rifqi Amalia | Sumber: Fatwa Tarjih Muhammadiyah

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

orang yang selalu mengingat kematian

Mengingat Orang Mati Ternyata Hati

Pagi masih muda. Saya mendekati seorang pembantu yang mencari kelelahan untuk mencari nafas yang nyaman. Kepalanya berdebar mencari oksigen untuk mengisi paru-paru. Senyum masih diberikan padaku.

"Assalamualaikum mak cik. Mengapa Anda ingin pergi ke bangsal ini? Hari seperti apa itu? "Saya bertanya untuk memulai. File pasien dikodekan satu per satu.

"Waalaikumussalam. Pada awalnya, saya tidak sadar di rumah. Darah tinggi. Anak-anak membawa pembantu ke rumah sakit. Enam hari seorang ibu di ICU. Tetapi Tuhan tetap ingin hidup. Alhamdulillah, dua hari yang lalu, ibuku sadar. Itu sebabnya ada di sini. Masih mengejar. Karena tekanan darah tidak stabil. Tapi itu agak sehat. "


"Aku seperti mati lagi. Saya tidak keberatan enam hari tidak sadar bahwa Tuhan benar-benar ingin memanggil kembali. Rupanya dia masih memberi kesempatan untuk hidup dengan tante. Mungkin Tuhan menginginkan kesempatan untuk bertobat lagi, "katanya dengan kasihan.

Saya mengangguk dan tersenyum. 'Tinggi juga tekanan darah, harus dikatakan mati hidup-hidup,' saya monoologis.

Tiba-tiba pasien lain yang berada di bilik belakang tidak sadarkan diri. Suasana gelisah gelisah. Dokter yang sedang bertugas segera mengembalikan hilangnya pasien segera.

Lima belas menit berjuang dengan waktu dan akhirnya Tuhan masih memberinya kesempatan kedua. Meskipun matanya terus menyusut, nafas dan denyut nadi yang telah lenyap untuk sesaat telah dimulai lagi.

Ada tertulis bahwa ini bukan lagi waktunya untuk dia kembali. Mungkin masih banyak tanggung jawab di dunia yang belum selesai. Bagaimana Tuhan Maha Kuasa untuk segalanya. Untuk sedetik, pulsa itu hilang, dan dia segera kembali.

"Kemuliaan bagi Allah di tangan-Nya dari semua kerajaan, dan Dia mampu melakukan segala sesuatu. Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji Anda, siapa di antara Anda yang lebih baik dalam perbuatan. Dan Dia Maha Tinggi dalam Mungkin, Maha Pengampun. "(Al-Mulk: 1-2)

Mati. Sebuah kata yang sering kita dengar. Juga kata yang kebanyakan orang pedulikan. Beberapa percaya bahwa kata ini sangat disayangkan ketika dipanggil berulang kali. Tapi, bukankah Islam menegur orang mati untuk menghidupkan kembali hati?

Ibnu Umar berkata: "Aku bersama Rasulullah, maka seorang Ansar mendatanginya dan berkata: Rasulullah! Manakah dari orang-orang percaya yang paling penting? Dia menjawab: Yang terbaik dari karakter mereka. Dia bertanya lagi: Manakah yang paling cerdik beriman?

Dia menjawab: "Yang paling mengingat kematian di antara mereka dan persiapan terbaik setelah kematian. Mereka adalah orang pintar. "(Hadis Sejarah Imam Ibn Majah)

Mengapa Rasulullah mengirim kita untuk mengingat kematian? Karena kematian sudah pasti. Tidak peduli di mana pun di dunia kita, tidak peduli di mana di dalam gua yang kita sembunyikan.

Jika sudah saatnya kita dipanggil kepada Tuhan, kita tidak akan bisa lari dari kematian.

Suatu kali seorang teman berbicara tentang pengalamannya saat berada di departemen darurat. Ada satu kasus kecelakaan yang melibatkan tiga keluarga di mana ibu hanya menderita luka ringan di kaki dan lengan.

Sementara ayah dan anak tiba dalam kondisi kritis dengan pendarahan tanpa akhir. Segalanya dilakukan untuk menyelamatkan anak itu tetapi Tuhan lebih mencintainya.

Setelah setengah jam, ibu tiba-tiba menjadi tidak sadar dan mengikuti anaknya bahkan jika dilihat dari luar tidak ada luka serius.

Sang ayah selamat; dan ketika dia sadar, dia meraung tak percaya dengan berita keberangkatan kedua orang yang mereka cintai. Pemerintahan Tuhan tidak ada yang bisa ditebak. Tidak ada yang bisa menghentikannya.

"Ada satu kasus, seorang saudari yang baik berjalan dari ruang tunggu, dia pergi ke toilet dan kembali. Tiba-tiba dia memuntahkan darah dan terus kolaps. Dan itu tidak bisa diselamatkan. Itu hanya brengsek. Tidak ketinggalan untuk sesaat. Terkadang tanpa diduga, "satu demi satu cerita tentang kematian didengar dan dilihat.

Kematian itu datang tanpa pemberitahuan. Kematian adalah rahasia Tuhan. Kenapa? Sehingga setiap muslim selalu siap menghadapi kematian. Mungkin hari ini kita bisa tertawa, mungkin besok bukan lagi milik kita untuk senyuman bahagia.

Tentunya kita telah mendengar berita kematian yang tidak terduga. Itu tidak harus menjadi sesuatu yang nyata, terkadang terburu-buru juga bisa menjadi yang terakhir yang memisahkan kita dan dunia fana ini.

Ketika Tuhan berkata 'kunfayakun', dalam tidur bahkan hidup dapat dipisahkan dari tubuh. Kehidupan di dunia ini berbeda dengan kehidupan akhirat. Ingatkan kami untuk mati sehingga kami selalu mempersiapkan diri untuk momen-momen yang tidak terduga.

"Sesungguhnya hati manusia itu berkarat seperti berkaratnya besi." Sahabat-sahabat bertanya, "Apakah penggilapnya wahai Rasulullah?" Rasulullah menjelaskan, "Membaca Al-Quran dan mengingat mati." (HR al-Baihaqi)

Sungguh, ini sudah dekat. Malaikat yang mati selalu ada bersama kita, di antara kita, mengikuti gerak tubuh kita, setiap saat dan saat. Izrail tidak hanya mendekati manusia sesaat sebelum mati.

Faktanya, malaikat kematian selalu mengintai dan dekat dengan kita. Bukankah setiap makhluk hidup pernah mati?

Kematian belum pernah mengenal usia, baik tua maupun muda. Itu sebabnya anak muda tidak selalu menjadi tua pada usia. Meski memiliki tubuh yang sehat dan wajah yang tampan dan indah, itu bukan jaminan kematian.

Seseorang melihat kematian itu sebagai ibrah. Ini juga dilihat sebagai peluang untuk mendapatkan sesuatu. Tanpa mengetahui setiap berita kematian adalah pengingat dari-Nya.

"Bawalah ketentuan, karena ketentuan terbaik adalah taqwa." (QS Al Baqarah 2: 197)

Kami tidak pernah membicarakan tentang hati kami - apa yang akan kami lakukan ketika kami diundang? Apakah cukup bahwa kita telah membuat persediaan untuk bertemu dengan Allah?

Apakah kita yakin setiap napas yang dipinjamkan kepada kita telah digunakan untuk jalan-Nya sebagai mas kawin untuk bertemu dengan Tuhan nanti? Semua praktik yang kita lakukan di dunia ini akan bertanggung jawab bahkan untuk ukuran biji mustard.

"Setiap jiwa akan merasa mati. Dan hanya pada Hari Kiamat saja diberikan balasan Kamu . Siapa pun yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, maka dia menang. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu. "(QS Ali Imran 3: 185)

Tanyakan kepada kami - apakah kematian kami akan berjuang untuk agama Tuhan atau dalam bentuk agama Tuhan atau sebaliknya?

Ketika kehidupan ditarik dari tubuh, jiwa kita dilapis dengan kemuliaan atau kebohongan yang terbuka - itu adalah pilihan. Selama kehidupan masih terkandung di dalam tubuh, kita memiliki pilihan untuk menentukan jalan mana yang terbaik sebagai jalan menuju redhaNya.

Waktu bertemu dengannya sudah dekat. Azan dan jarak solat berdekatan. Masing-masing dari nafas ini adalah pinjaman dari-Nya, setiap detik dari hati juga merupakan pinjaman-Nya. Dunia adalah pinjaman. Yang membingungkan itu menyakitkan. Tapi percayalah, pertemuan di surga akan menjadi manis yang abadi.

"Di mana pun Kamu berada, kematian akan membuat Kamu , meskipun Kamu berada di benteng yang kuat. Dan kalau mereka memperoleh kebaikan (kemewahan hidup), mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa bencana, mereka berkata: "Ini adalah dari (sesuatu nahas) yang ada padamu." Katakanlah (wahai Muhammad): " semuanya itu (kebaikan dan bencana) adalah (bersumber) dari sisi Allah. "Maka apakah yang menyebabkan kaum itu hampir-hampir tidak memahami perkataan (munafik)?" (QS An-Nisa ': 78)

Kisah Teladan Luqman al-Hakim

Luqman al-Hakim dalam Al-QuranLuqman (Arab: لقمان الحكيم, Luqman al-Hakim, Luqman Ahli Hikmah) adalah orang yang disebut dalam Al-Qur'an dalam surah Luqman [31]:12-19 yang terkenal karena nasihat-nasihatnya kepada anaknya. Ibnu Katsir berpendapat bahwa nama panjang Luqman ialah Luqman bin Unaqa' bin Sadun. Sedangkan asal usul Luqman, sebagian ulama berbeda pendapat. Ibnu Abbas menyatakan bahwa Luqman adalah seorang tukang kayu dari Habsyi. Riwayat lain menyebutkan ia bertubuh pendek dan berhidung mancung dari Nubah, dan ada yang berpendapat ia berasal dari Sudan. Dan ada pula yang berpendapat Luqman adalah seorang hakim pada zaman nabi Dawud.

Kisah Luqman al-Hakim - Dalam sebuah riwayat menceritakan bahwa pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, manakala anaknya mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang pun berkata, "Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki." Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di pasar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang ajar anak itu."

Kisah Teladan Luqman al-Hakim

Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, mereka sungguh menyiksakan himar itu." Oleh karena tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai." Dalam perjalanan mereka kedua beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihati anaknya tentang sikap manusia dan celoteh mereka. Ia berkata, "Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah saja. Siapa saja yang mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu."

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang), dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya). Lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."

Nasihat Luqman

Di antara nasihat Luqman yang terdapat dalam surah Luqman ialah:

Jangan mempersekutukan Allah (Luqman 31:13).
Berbuat baik kepada dua orang ibu-bapanya (Luqman 31:14).
Sadar akan pengawasan Allah (Luqman 31:16).
Dirikan salat (Luqman 31:17).
Perbuat kebajikan (Luqman 31:17).
Jauhi kemungkaran (Luqman 31:17).
Sabar menghadapi cobaan dan ujian (Luqman 31:17).
Jangan sombong (Luqman 31:19).

Surah Luqman (Arab: لقمان, "Luqman al-Hakim") adalah surah ke-31 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri dari atas 34 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Surah ini diturunkan setelah surah As-Saffat. Nama Luqman diambil dari kisah tentang Luqman yang diceritakan dalam surah ini tentang bagaimana ia mendidik anaknya.

Luqmanul Hakim menurut riwayat yang lebih kuat, bukan seorang nabi. Ia seorang manusia shaleh semata. Akan tetapi Allah menilai dari ketakwaaan dan kesalehannnya. Setidaknya, ada dua manusia yang bukan nabi, tapi namanya diabadikan dalam al-Qur’an menjadi nama surat. Keduanya itu adalah Luqman dan Maryam. Luqman berdarah Arab. Sebagian sejarawan menyebut Luqman berdarah Ibrani, sebagian lain menyebut berdarah Habasyi, dan yang lainnya menyebut berdarah Nubi, salah satu suku di Mesir yang berkulit hitam (aswan sekarang).

Dalam Tarikh nya, Ibnu Ishak menuturkan, bahwa Luqman bernama Luqman bin Bau’raa bin Nahur bin Tareh, dan Tareh bin Nahur merupakan nama dari Azar, ayah Nabi Ibrahim as. Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa Luqman adalah putra dari saudari kandung Nabi Ayyub as. Muqatil menuturkan, Luqman adalah putra dari bibinya Nabi Ayyub as. Imam Zamakhsyari menguatkan dengan mengatakan: Dia adalah Luqman bin Bau’raa putra saudari perempuan Nabi Ayyub atau putra bibinya. Riwayat lain mengatakan, Luqman adalah cicit Azar, ayahnya Nabi Ibrahim as. Luqman hidup selama 1000 tahun, ia sezaman bahkan gurunya Nabi Daud. Sebelum Nabi Daud diangkat menjadi Nabi, Luqman sudah menjadi mufti saat itu, tempat konsultasi dan bertanya Nabi Daud as.

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang profesinya. Sebagian mengatakan, profesinya adalah tukang jahit. Sebagian lainnya mengatakan tukang kayu, yang lainnya menuturkan tukang kayu bakar, dan terakhir mengatakan sebagai penggembala. Riwayat lain menuturkan bahwa Luqman adalah qadhi pada masa Bani Israil, sekaligus konsultannya Nabi Daud as. Bahkan riwayat lain menuturkan Luqman adalah seorang budak belian dari Habasyi yang berprofesi sebagai tukang kayu. Khalid ar-Rib’i menuturkan: “Luqman adalah seorang budak belian dari Habasyi yang berprofesi sebagai tukang kayu.

Dalam sejarahnya Luqman menikah dan dikaruniai banyak anak, akan tetapi semuanya meninggal dunia ketika masih kecil, tidak ada yang sampai dewasa, namun Luqman tidak menangis, karena hidupnya yang sudah yakin dengan Allah. Wasiat-wasiat Luqman dalam al-Qur’an (QS. Luqman: 13-19). Wasiat-wasiat Luqman lainnya: Selain dalam ayat al-Qur’an, Luqman juga mempunyai banyak wasiat. Wahab bin Munabbih pernah menuturkan: “Saya membaca hikmah Luqman yang jumlahnya lebih dari 10 ribu bab”. Dalam bukunya Min Washaya al-Qur’an al-Karim (1/31-33), Muhammad al-Anwar Ahmad Baltagi, mengutip sebuah riwayat dari Malik bin Anas bahwasannya Luqman pernah menasehati putranya di bawah ini:

01 – Hai anakku: ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama takwa, isinya adalah iman dan layarnya adalah tawakal kepada Allah.

02 – Orang – orang yang sentiasa menyediakan dirinya untuk menerima nasihat, maka dirinya akan mendapat penjagaan dari Allah. Orang yang insaf dan sadar setelah menerima nasihat orang lain, dia akan sentiasa menerima kemulian dari Allah juga.

03 – Hai anakku; orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat dan taat kepada Allah, maka dia tawadduk kepada Allah, dia akan lebih dekat kepada Allah dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepadaNya.

04 – Hai anakku; seandainya ibubapamu marah kepadamu kerana kesilapan yang dilakukanmu, maka marahnya ibubapamu adalah bagaikan baja bagi tanam tanaman.

05 – Jauhkan dirimu dari berhutang, kerana sesungguhnya berhutang itu boleh menjadikan dirimu hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.

06 – Dan Berharaplah selalu kepada Allah tentang sesuatu yang menyebabkan untuk tidak mendurhakaiNya. Takutlah kepada Allah dengan sebenar benar takut ( takwa ), tentulah engkau akan terlepas dari sifat berputus asa dari rahmat Allah.

07 – Hai anakku; seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercayai orang dan seorang yang telah rusak akhlaknya akan sentiasa banyak melamun hal-hal yang tidak benar. Ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih

mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mahu mengerti.

08 – Hai anakku; engkau telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih lagi dari semua itu, yaitu manakala engkau mempunyai tetangga (jiran) yang jahat.

09 – Hai anakku; janganlah engkau mengirimkan orang yang bodoh sebagai utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdik, sebaiknya dirimulah saja yang layak menjadi utusan.

10 – Jauhilah bersifat dusta, sebab dusta itu mudah dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit sahaja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya.

11 – Hai anakku; bila engkau mempunyai dua pilihan, takziah orang mati atau menghadiri majlis perkawinan, pilihlah untuk menziarahi orang mati, sebab hal itu akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedangkan menghadiri pesta perkawinan hanya mengingatkan dirimu kepada kesenangan duniawi sahaja.

12 – Janganlah engkau makan sampai kenyang yang berlebihan, kerana sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu alangkah lebih baik apabila diberikan kepada binatang sekalipun.

13 – Hai anakku; janganlah engkau langsung menelan sahaja kerana manisnya barang dan janganlah langsung memuntahkan saja pahitnya sesuatu barang itu, kerana manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu belum tentu menimbulkan kesengsaraan.

14 – Makanlah makananmu bersama sama dengan orang orang yang takwa dan musyawarahlah urusanmu dengan para alim ulama dengan cara meminta nasihat dari mereka.

15 – Hai anakku; bukanlah satu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmu tetapi engkau tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah bagaikan orang yang mencari kayu bakar, maka setelah banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih ingin terus menambahkannya.

16 – Hai anakku; bilamana engkau mahu mencari kawan sejati, maka ujilah terlebih dahulu dengan berpura pura membuat dia marah. Bilamana dalam kemarahan itu

dia masih berusaha menginsafkan kamu,maka bolehlah engkau mengambil dia sebagai kawan. Bila tidak demikian, maka berhati hatilah.

17 – Selalulah baik tuturkata dan halus budibahasamu serta manis wajahmu, dengan demikian engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang yang berharga.

18 – Hai anakku; bila engkau berteman, tempatkanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu daripadanya. Namun biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu.

19 – Jadikanlah dirimu dalam segala tingkah laku sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau mengharap sanjungan orang lain kerana itu adalah sifat riya~ yang akan mendatangkan cela pada dirimu.

20 – Hai anakku; janganlah engkau condong kepada urusan dunia dan hatimu selalu disusahkan olah dunia kerana engkau diciptakan Allah bukanlah untuk

dunia sahaja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih hina daripada orang yang terpedaya dengan dunianya.

21 – Hai anakku; usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata kata yang busuk dan kotor serta kasar, kerana engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar bicaramu mendatangkan manfaat bagi orang lain.

22 – Hai anakku; janganlah engkau mudah ketawa kalau bukan kerana sesuatu yang menggelikan, janganlah engkau berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah engkau bertanya sesuatu yang tidak ada guna bagimu, janganlah menyia-nyiakan hartamu.

23 – Barang sesiapa yang penyayang tentu akan disayangi, siapa yang pendiam akan selamat daripada berkata yang mengandung racun, dan siapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari berkata kotor tentu akan menyesal.

24 – Hai anakku; bergaullah rapat dengan orang yang alim lagi berilmu. Perhatikanlah kata nasihatnya karena sesungguhnya hati akan tentram mendengarkan nasihatnya, sehingga hati ini akan hidup dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya sebagaimana tanah subur yang disirami air hujan.

25 – Hai anakku; ambillah harta dunia sekadar keperluanmu sahaja, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekalan akhiratmu. Jangan engkau tendang dunia ini ke keranjang atau bakul sampah kerana nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta meneguk habis airnya kerana sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka. Janganlah engkau berteman dengan orang yang bermuka dua, karena kelak akan membinasakan dirimu

Kisah Singkat Ja'far bin Abi Thalib

Ja'far bin Abi Thalib - Sepupu Rasulullah SAWJa'far bin Abi Thalib (Arab: جعفر ابن أبي طالب) (dikenal juga dengan julukan Jafar-e-Tayyar) adalah putera dari Abu Thalib (paman dari Nabi Islam Muhammad, dan kakak dari Khalifah ke-4 Ali bin Abi Thalib. Ja'far dibesarkan oleh pamannya, Abbas bin 'Abdul Muththalib, karena ayahnya yang miskin dan harus menghidupi keluarga besar. Terdapat kemiripan antara Ja'far dan Muhammad, baik dalam rupa maupun sifat yang dimiliki. Muhammad memanggil Ja'far, "Bapak orang-orang Miskin", karena ia selalu menolong dan membantu orang miskin dengan semua uang yang dimiliki.

Ayahnya Abū Thālib bin ‘Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: أبو طالب بن عبد المطلب) (549/550 - 619) adalah ayah dari Ali bin Abi Thalib juga serta paman dari Nabi Muhammad. Nama aslinya adalah Imran (Arab: عمران), tetapi ia lebih dikenal dengan julukan Abu Thalib, yang artinya bapaknya Thalib. Sebagai pemimpin Bani Hasyim setelah kematian ayahnya, Abdul-Muththalib, ia menjadi pengasuh Nabi Muhammad dan kemudian pendukung utama dalam berdakwah. Ia menikah dengan Fatimah binti Asad dan memiliki 6 orang anak. Abu Thalib bin Abdul Muthalib memiliki empat orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan, yaitu : Thalib bin Abu Thalib, Ja'far bin Abu Thalib, Ali bin Abu Thalib, Aqil bin Abu Thalib, Fakhtihah binti Abu Thalib, Jumanah binti Abu Thalib (Ummi Hani)

Kisah Singkat Ja'far bin Abi Thalib
makam ja'far bin abi thalib

Ja'far bin Abi Thalib - Sepupu Rasulullah SAWJa'far bin Abi Thalib termasuk golongan awal memeluk Islam, sewaktu kecil dia dalam pengasuhan pamannya yaitu Al-Abbas, begitu juga saudaranya Ali bin Abi Thalib berada dalam pengasuhan Nabi Muhammad. ‘Alī bin Abī Thālib adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad. Ali adalah sepupu dan sekaligus mantu Muhammad, setelah menikah dengan Fatimah. Ia pernah menjabat sebagai salah seorang khalifah pada tahun 656 sampai 661. Ia adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin.

Ja'far bin Abi Thalib menikah dengan Asma binti Umays. Asma Binti Umays adalah wanita salehah Muhajirin yang masuk Islam sebelum Nabi Muhammad Saw, masuk ke Darul Arqam rumahnya Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Ummu 'Abdillah ‘Asma Binti Umays 'bin 'Ma'bad bin al-Harits bin Taim bin Ka'ab bin Malik bin Quhafah bin 'Amir bin Rabi'ah bin 'Amir bin Mu'awiyah bin Zaid bin Malik bin Basyar bin Wahabullah bin Syahran bin 'Afras bin Khalaf bin Khats'am bin Anmar al-Khats'amiyyah. Ibunya Hindun bin 'Auf bin Zuhair bin al-Harits. Saudari kandungnya, Salma binti Umays, istri Hamzah bin Abdul-Muththalib.

Ja'far dan istrinya kemudian ikut hijrah kedua ke negeri Habasyah (Ethiopia) kemudian melalui dia raja negeri Habasyah, An-Najasyi yaitu Ashhamad bin Al-Abjar masuk Islam setelah menerima surat dari Nabi Muhammad yang dikirim melalui Amr bin Ummayyah Adh-Dhamary. Ja'far bin Abi Thalib kembali pulang dari Habasyah sewaktu penaklukan Khaibar dan ikut menuju Khaibar bersama dengan Abu Musa Al-Asyary. Pada tahun 629, Ja'far bin Abi Thalib ikut perang Mu'tah dan gugur. Selain dia ikut gugur antara lain Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawahah. Peperangan itu merupakan peperangan pertama umat islam dengan pasukan Romawi.

Kisah Sahabat Abdullah Bin Umar

Abdullah bin Umar atau Ibnu Umar bin Khattab Abdullah bin Umar bin Khattab atau sering disebut Abdullah bin Umar atau Ibnu Umar saja (lahir 612 - wafat 693/696 atau 72/73 H) adalah seorang sahabat Nabi dan merupakan periwayat hadits yang terkenal. Ia adalah anak dari Umar bin Khattab, salah seorang sahabat utama Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin yang kedua. Ibnu Umar masuk Islam bersama ayahnya saat ia masih kecil, dan ikut hijrah ke Madinah bersama ayahnya. Pada usia 13 tahun ia ingin menyertai ayahnya dalam Perang Badar, namun Rasulullah menolaknya. Perang pertama yang diikutinya adalah Perang Khandaq. Ia ikut berperang bersama Ja'far bin Abu Thalib dalam Perang Mu'tah, dan turut pula dalam pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah). Setelah Nabi Muhammad meninggal, ia ikut dalam Perang Yarmuk dan dalam penaklukan Mesir serta daerah lainnya di Afrika. Setelah Utsman terbunuh, sebagian kaum muslimin pernah berupaya membai'atnya menjadi khalifah, tapi ia juga menolaknya. Ia tidak ikut campur dalam pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia cenderung menjauhi dunia politik, meskipun ia sempat terlibat konflik dengan Abdullah bin Zubair yang pada saat itu telah menjadi penguasa Makkah. 

Kisah Sahabat Abdullah Bin Umar

Ibnu Umar selalu memperhatikan apa yang diperbuat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Ia menirunya dengan cermat dan teliti. Suatu kali di suatu tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam berdoa sambil berdiri, maka ia berdoa dan berdiri di tempat itu. Jika berdoa sambil duduk, maka ditirunya pula berdoa sambil duduk di situ. Pada tempat berbeda, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam pernah turun dari ontanya dan melakukan sholat dua rakaat. Maka Ibnu Umar akan melakukannya juga. Jika dalam perjalanan ia kebetulan lewat di tempat itu, maka ia akan turun dan sholat dua rakaat di sana. Lantaran kegemarannya mengikuti sunnah dan jejak Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, Ibnu Umar amat hati-hati dalam penyampaian hadist dari Beliau. Ia tdak ingin mengurangi atau menambahkan apa yang didengar dan dilihatnya. “Tak seorang pun yang di antara sahabat-sahabat Rasulullah yang lebih berhati-hati agar tidak terselip atau terkurangi sehuruf pun dalam menyampaikan hadist sebagaimana halnya Ibnu Umar.” Demikian kesaksian pada sahabat kala itu. Ibnu Umar enggan berfatwa pada suatu hal yang tidak diketahuinya. Ia hanya akan mengatakan, “Saya tidak tahu tentang masalah yang anda tanyakan itu.” Demikianlah kehati-hatiannya enggan berijtihad pada sesuatu yang tidak ia pahami karena takut melakukan kesalahan. 

Suatu hari Khalifah Ustman ra memanggilnya dan meminta kesediaannya untuk memegang jabatan kehakimannya itu, tetapi ditolaknya bagaimanapun khalifah mendesaknya. Khalifah Ustman memahami dan menerima keberatan Ibnu Umar. Langkahnya bukanlah sesuatu hal yang negatif karena pada waktu itu dinilai masih ada sahabat lain yang bisa memegang jabatan tersebut. Selain itu, Khalifah Ustman ra memahami bahwa Ibnu Umar sebagai seorang tokoh yang bertaqwa memberikan contoh akan sikap zuhud dan kesholehan. Termasuk menghindarkan diri dari jabatan kadli atau kehakiman sebagai jabatan tertinggi. Apa yang dapat digambarkan dari sifat Ibnu Umar selain zuhud, wara dan shalih? Sebagai seorang saudagar yang berkecukupan, ia adalah seorang pemurah. Suatu hari Ibnu Umar mendapatkan uang sebanyak empat ribu dirham dan sehelai baju dingin. Pada hari berikutnya, Ibnu Wail secara tak sengaja melihat Ibnu Umar membelikan makanan tunggangannya di pasar secara berhutang. Semua orang sudah tahu bagaimana sifat kedermawanan Ibnu Umar. Tak pernah Ibnu Umar makan seorang diri, ia selalu dikelilingi anak-anak yatim waktu makan. Berkata Malmun bin Marwan, “Saya masuk ke rumah Ibnu Umar dan menaksir harga barang-barang yang terdapat di sana berupa ranjang, selimut dan tikar, pendeknya apa juga yang terdapat di sana. Maka saya dapati harganya tidak sampai seratus dirham.”

Bersikap Netral - Hasan ra bercerita mengenai Ibnu Umar: “Tatkala Ustman bin Affan dibunuh orang, umat mengatakan kepada Abdullah bin Umar, ’Anda adalah seorang pemimpin, keluarlah agar kami minta orang-orang bai’at pada Anda!’ Jawabnya, ‘Demi Allah, seandainya dapat, janganlah ada walau setetes darah pun yang tertumpah disebabkan daku’. Kata mereka, ‘Anda harus keluar! Kalau tidak akan kamu bunuh di tempat tidurmu!’ Tetapi jawaban Ibnu Umar tidak berbeda dengan yang pertama. Demikianlah mereka membujuk dan mengancamnya, tetapi tak satu pun hasil yang mereka peroleh.” Ibnu Umar merupakan salah seorang harapan bagi umat kala itu, tapi ia memberi syarat jika ditunjuk menjadi pemimpin harus didukung oleh seluruh kaum muslimin tak terkecuali. Syarat tersebut kala itu sangatlah tidak mungkin karena adanya perselisihan kaum muslim sesaat setelah kematian Khalifah Utsman bin Affan. Suatu kali Abul Aliyah al Barra berjalan di belakangnya dan tak sengaja mendengar Ibnu Umar berkata pelan pada dirinya sendiri: “Mereka letakkan pedang-pedang mereka di atas pundak-pundak lainnya, mereka berbunuhan lalu berkata, ‘Hai Abdullah bin Umar ikutlah dan berikan bantuan’. Sungguh sangat menyedihkan.” Ia amat menyesali darah kaum muslimin tertumpah oleh sesamanya. 

Ibnu Umar dikaruniai umur yang panjang dan hidup sampai pada masa Bani Umaiyah. Saat itu, Islam sudah mulai berjaya, harta melimpah ruah. Namun, ia memilih zuhud dan mengutamakan ketaqwaan. Pada akhir hidup Ibnu Umar corak kehidupan mengalami perubahan. Kala itu, kehidupan kaum muslim semakin longgar, telah lapang dalam bermewah-mewahan. Namun, Ibnu Umar tetaplah bertahan dengan kesederhanaannya. Ibnu Umar berkata, “Saya bersama sahabat-sahabatku telah sama sepakat atas suatu perkara, dan saya khawatir jika menyalahi mereka, takkan bertemu lagi dengan mereka untuk selama-lamanya.” Lalu sambil berdoa menegadahkan tangan ia berucap, “Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa kalau tidaklah karena takut kepadaMu tentulah kami akan ikut berdesakan dengan bangsa kami Quraisy memperebutkan dunia ini.” Kaum muslim berdoa, “Ya Tuhan kami, lanjutkanlah kiranya usia Ibnu Umar sebagaimana Allah melanjutkan usiaku, agar aku dapat mengikuti jejak langkahnya, karena aku tidak mengetahui seorang pun yang menghirup dari sumber pertama selain Abdullah bin Umar.” Namun, Allah berkehendak lain dan memanggilnya pada suatu hari di tahun 73 Hijriah pada usia 80 tahun.

Ibnu Umar adalah seorang yang meriwayatkan hadist terbanyak kedua setelah Abu Hurairah, yaitu sebanyak 2.630 hadits, karena ia selalu mengikuti kemana Rasulullah pergi. Bahkan Aisyah istri Rasulullah pernah memujinya dan berkata :"Tak seorang pun mengikuti jejak langkah Rasulullah di tempat-tempat pemberhentiannya, seperti yang telah dilakukan Ibnu Umar". Ia bersikap sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadist Nabi. Demikian pula dalam mengeluarkan fatwa, ia senantiasa mengikuti tradisi dan sunnah Rasulullah, karenanya ia tidak mau melakukan ijtihad. Biasanya ia memberi fatwa pada musim haji, atau pada kesempatan lainnya. Di antara para Tabi'in, yang paling banyak meriwayatkan darinya ialah Salim dan hamba sahayanya, Nafi'.

Kesalehan Ibnu Umar sering mendapatkan pujian dari kalangan sahabat Nabi dan kaum muslimin lainnya. Jabir bin Abdullah berkata: " Tidak ada di antara kami disenangi oleh dunia dan dunia senang kepadanya, kecuali Umar dan putranya Abdullah." Abu Salamah bin Abdurrahman mengatakan: "Ibnu Umar meninggal dan keutamaannya sama seperti Umar. Umar hidup pada masa banyak orang yang sebanding dengan dia, sementara Ibnu Umar hidup pada masa yang tidak ada seorang pun yang sebanding dengan dia". Ibnu Umar adalah seorang pedagang sukses dan kaya raya, tetapi juga banyak berderma. Ia hidup sampai 60 tahun setelah wafatnya Rasulullah. Ia kehilangan pengelihatannya pada masa tuanya. Ia wafat dalam usia lebih dari 80 tahun, dan merupakan salah satu sahabat yang paling akhir yang meninggal di kota Makkah.

Mimpi Ibnu Umar - Suatu kali Ibnu Umar pernah bercerita mengenai mimpinya. Ia berkisah, “Di masa Rasulullah Shalllallahu Alaihi Wassalam, saya bermimpi seolah-olah di tanganku ada selembar kain beludru. Tempat mana saja yang saya ingin di surga, maka beludru itu akan menerbangkanku ke sana… Lalu nampak pula dua orang yang mendatangiku dan ingin membawaku ke neraka. Tetapi seorang Malaikat menghadang mereka, katanya, “ Jangan ganggu!” Maka kedua orang itu pun melapangkan jalan bagiku.” Oleh Hafshah, yaitu saudari Ibnu Umar, mimpi itu diceritakannya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Maka sabda Rasulullah SAW: “Akan menjadi laki-laki paling utamalah Abdullah itu, andainya ia sering sholat malam dan banyak melakukannya.” Maka semenjak itu, sampai ia berpulang ke Rahmatullah, Ibnu Umar tidak pernah meninggalkan sholat malam baik kala ia bermukim atau saat menjadi musafir. Ia banyak membaca Al Quran, berzikir dan menyebut nama Allah.
Back To Top